SERANG - Banten merupakan daerah di Jawa yang kaya akan
wisata ziarah, di antaranya makam Syekh Mansyur di Cikaduen Pandeglang,
Masjid Agung Banten Lama di Kasemen Kota Serang, hingga Makam Sultan
Pangeran Sunyararas di Tanara, Kabupaten Serang.
Selain makam Sultan Pangeran Sunyararas di Tanara, masih banyak lagi
wisata ziarah lainnya di Banten yang keberadaannya sangat banyak
dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal, nusantara hingga wisatawan
mancanegara. Bahkan menurut data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
(Disbudpar) Banten, wisata ziarah merupakan salah satu wisata yang
banyak mendapatkan kunjungan. Terlebih di saat hari besar agama Islam,
seperti Lebaran Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Islam hingga Isra
Miraj.

Makam Sultan Pangeran Sunyararas berlokasi di Desa Tanara,
Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, tempat di mana ulama besar dunia
dilahirkan dan berkarya untuk umat manusia. Makam Sultan Pangeran
Sunyararas juga menjadi salah satu wisata ziarah yang banyak dikunjungi
wisatawan. Di hari biasa, wisatawan yang berkunjung kebanyakan ibu-ibu
pengajian dan kelompok majelis taklim yang berada di wilayah Banten. Di
hari besar agama Islam, pengunjung yang datang banyak dari daerah luar
Banten, seperti Garut, Tasikmalaya, Semarang, Solo, Surabaya, hingga
Makasar, Sulawesi Tenggara. "Apalagi kalau acara haul Syekh Nawawi Al
Bantani Tanara, pengunjung yang datang itu bisa puluhan ribu dari
berbagai daerah di Indonesia. Setiap haul, banyak pejabat pemerintah
yang hadir. Malah pernah dihadiri Presiden SBY juga," ujar Randhoni
(24), warga Tanara yang sering berziarah ke makam tersebut, kepada
Banten Raya, Senin (17/9).
Untuk ke makam Sultan Pangeran
Sunyararas, hanya membutuhkan waktu 50-70 menit jika naik kendaraan
pribadi dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Lokasi makam Sultan
Pangeran Sunyararas ini berada di kampung halaman ulama besar dunia,
yakni Syekh Nawawi Al Bantani Tanara. Syekh Nawawi itu sendiri wafat dan
dimakamkan di Ma'la Kota Mekkah, namun tidak sedikit wisatawan yang
berkunjung ingin mengetahui lebih dekat napak tilas Syekh Nawawi
tersebut. Apalagi sejarah bercerita banyak tentang kehebatan Syekh
Nawawi yang karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah
air, bahkan di luar negeri. Syekh Nawawi telah menghasilkan banyak buku
yang menjadi pegangan dan kajian ulama dalam dan luar negeri. "Sebagian
karya beliau ditulis di kampung ini, bahkan beberapa cukilan karyanya
masih ada di tempat kelahiran beliau di Kampung Pesisir, Tanara ini,"
ujar salah seorang petugas jaga makam Sultan Pangeran Sunyararas yang
enggan disebutkan namanya.
Menurut Ahmad Sholeh (22), mahasiswa
UIN Ciputat yang ziarah ke makam tersebut, bagi kalangan intelektual
Islam, sosok Syekh Nawawi menjadi salah satu magnit tersendiri. Terlebih
ketika sudah mempelajari karyanya yang menjadi sumbangan besar bagi
perkembangan agama Islam di dunia. "Indonesia harusnya bangga memiliki
syekh yang mendunia karena ilmunya, seperti Syekh Nawawi ini. Karena
itulah, saya sering ziarah dan mengunjungi tempat-tempat yang pernah
didiami beliau untuk mengenang sekaligus mencari berkah dan hikmahnya,"
kata Sholeh.
Berbeda dengan yang diungkapkan Asmawi (47), warga
Kresek, Kabupaten Tangerang. Kata Asmawi, ia selalu mengajak keluarganya
untuk ziarah ke makam-makam ulama besar dan sultan yang menyebarkan
ajaran Islam di Banten dan Indonesia. Bagi Asmawi, ziarah itu penting
untuk dilakukan sebagai bahan ajar dan pendidikan agama yang efektif
kepada anak-anaknya. Sekaligus mengingatkan dirinya atas kematian, bahwa
semua yang ada di dunia ini, termasuk nyawa dirinya adalah kepunyaan
Allah SWT. "Jadi motif saya ziarah itu semata-mata mengingat akan
kebesaran Allah, sekaligus memberikan pendidikan agama dan dakwah yang
efektif bagi anak-anak saya, sehingga kelak bisa menjadi ulama besar
seperti Syekh Nawawi. Setidaknya ikut mengamalkan ajaran-ajaran Islam di
kehidupannya sehari-hari," kata Asmawi. Komplek wisata ziarah Syaikh
Nawawi Al-Bantani Al-Jawi tersebut sebenarnya ada empat lokasi, di
sekitar Desa Tanara. Selain makam Sultan Pangeran Sunyararas, ada juga
Masjid Agung Tanara (Bait An-Nawawi) di Kampung Pesisir, Kecamatan
Tanara, Kabupaten Serang, yang kerap dikunjungi wisatawan. Lokasi
masjid tersebut dekat sekali dengan rumah tempat Syekh Nawawi
dilahirkan. Bahkan di masjid itulah konon Syekh Nawawi menuliskan
karya-karyanya yang menjadi rujukan seluruh umat Islam di dunia.
Sekilas tentang Syekh Nawawi
Syekh
Muhammad bin Umar Nawawi Al-Bantani Al-Jawi lahir di Kampung Pesisir,
Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, pada tahun 1815 .
Rumah Syekh Nawawi persis berada di samping Masjid Bait An-Nawawi yang
kemudian dikenal dengan masjid Agung Tanara. Masjid tersebut merupakan
peninggalan Raja Banten Pertama, yaitu Sultan Maulana Hasanuddin, yang
memerintah kesultanan Banten tahun 1552 hingga 1570. Sejak umur 15
tahun, Syekh Nawawi pergi ke Makkah dan tinggal daerah Syi’ab Ali.
Syekh Nawawi wafat pada usia 82 tahun, tepatnya tahun1897, dan
dimakamkan di Ma’la, Kota Mekkah. Syekh Nawawi terkenal karena
kitab-kitab yang diterbitkan di Mesir. Kitab-kitab karangannya menjadi
bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di
Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand, dan juga negara-negara
di Timur Tengah. Atas karyanya itu, semua orang menjulukinya sebagai
Imam Nawawi kedua. Kitab yang ditulisnya dan yang terkenal serta banyak
dipelajari ada sekitar 22 kitab. Syekh Nawawi pernah membuat tafsir Al
Quran berjudul Mirah Labid yang berhasil membahas dengan rinci setiap
ayat suci Al Quran. Buku beliau tentang etika berumah tangga, berjudul
Uqudul Lijain diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, telah menjadi bacaan
wajib para mempelai yang akan segera menikah. Kitab Nihayatuz Zain
sangat tuntas membahas berbagai masalah fiqih (syariat Islam). Sebuah
kitab kecil tentang syariat Islam yang berjudul Sullam (Habib Abdullah
bin Husein bin Tahir Ba’alawi), diberinya Syarah (penjelasan rinci)
dengan judul baru Mirqatus Su’udit Tashdiq satu karya beliau dalam hal
kitab hadits adalah Qoul, syarah Kitab Lubabul Hadith (Imam Suyuthi).
Kitab Hadits lain yang sangat terkenal adalah Nashaihulbergantian oleh
Alm. KH Mudzakkir Ma’ruf dan KH Masrikhan (dari Masjid Jami Mojokerto)
dan disiarkan berbagai radio swasta di Jawa Timur. Kitab itu adalah
syarah dari kitabnya Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani. (Sofiyan)
Read More