Tampilkan postingan dengan label Everything About Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Everything About Banten. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2016

Sisi Lain Dari Suku Baduy: Sistem Kalender

Sistem Kalender Suku Baduy:
  1. Sapar/Kapat : Seba, Narawas, Nyacar
  2. Kalima          : Inisiasi, Perkawinan, Muja
  3. Kanem          : Nukuh, Selametan
  4. Katujuh         : Ngaduruk, Ngaseuk Serang
  5. Kadalapan    : Ngaseuk Huma Pu'un
  6. Kasalapan    : Ngaseuk Huma Tangtu
  7. Kasapuluh    : Ngaseuk Huma Warga
  8. Hapit-lemah  : Mipit
  9. Hapit-kayu   : Semi Panen
  10. Kasa            : Kawalu Tembeuy
  11. Karo            : kawalu Panengah
  12. Katiga          : Kawalu Tutug, Ngalaksa


Narawas, artinya mencari atau memilih lahan untuk dijadikan huma. Nyacar, berarti menebas rumput atau semak belukar. Nukuh, berarti mengeringkan rumput dan hasil tebasan lainnya. Ngaduruk adalah kegiatan membakar sampah yang telah dikumpulkan pada kegiatan nukuh. Ngaseuk, artinya membuat lubang kecil dengan menggunakan aseukan (penugal) untuk mananam benih padi. Menugal dilakukan oleh pria, sedangkan memasukkan benih padi ke dalam lubang tugalan dilakukan oleh perempuan. Ngirab sawan, membersihkan sampah bekas ranting dan daun atau tanaman lain yang mengganggu tanaman padi yang sedang tumbuh.

Mipit adalah kegiatan pertama kali memetik atau menuai padi. Tiga bulan saat pemanenan tersebut sering pula dikenal dengan bulan kawalu. Penelitian ini dilakukan pada bulan kawalu tengah. Dibuat, berarti menuai atau memotong padi (panen). Ngunjal, artinya mengangkut hasil panen padi dari huma ke lumbung padi.

Nganyaran, upacara makan nasi baru atau nasi pertama kali hasil dibuat di humaserang. Seluruh tata urutan perladangan di ikuti oleh masyarakat Baduy.
 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lembaga adat Baduy dipimpin oleh tiga orang puun. Ketiga pimpinan tertinggi ini berasal dari tiga kampung keramat di Baduy Dalam, yaitu Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana. Puun adalah orang suci keturunan karuhun (leluhur) yang berkewajiban menjaga kelestarian pancer bumi dan sanggup menuntun warganya berpedoman pada pikukuh atau ketentuan adat mutlak sebagai panduan perilaku.
Read More

Sisi Lain Dari Suku Baduy: Ngahuma

Orang Baduy merupakan peladang murni. Berladang merupakan tumpuan pokok mata pencaharian mereka. Sistem perladangan yang dikenal berupa per-ladangan berpindah. Aktivitas berladang disebut ngahuma. Bagi warga Baduy yang sudah berkeluarga, wajib memiliki huma sendiri dan mematuhi tata aturan perladangannya.


Tradisi orang Baduy mengenal 5 macam huma berdasarkan fungsinya, yakni huma serang, huma puun dan kokolot, huma tangtu, huma tuladan, serta huma panamping. Huma serang merupakan huma adat milik bersama. Penggarapan huma ini dikerjakan secara bersama-sama oleh segenap masyarakat Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, dipimpin oleh pimpinan adat atau puun dengan waktu yang sudah ditetapkan oleh lembaga adat.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Masyarakat Baduy terbagi atas tiga kelompok, yakni tangtu, panamping dan dangka. Meski demikian pengelompokkan yang sering digunakan oleh masyarakat umum hanya dua, yaitu Baduy Dalam (padanan untuk tangtu) dan Baduy Luar (padanan untuk panamping dan dangka).
Read More

Sisi Lain Dari Suku Baduy: Cara Berjalan Orang Baduy

Orang-orang Baduy mengenal istilah huyunan yang artinya berjalan beruntun satu per satu. Huyunan menjadi kebiasaan berjalan orang Baduy, karena kondisi jalan setapak di lereng pegunungan Kendeng tempat mereka hidup yang lebarnya hanya berkisar 1-2 meter. Menariknya, cara berjalan ini tetap dipertahankan meskipun orang-orang Baduy tengah berjalan di jalan besar perkotaan yang bukan lagi jalan setapak.


Tata cara berjalan orang Baduy mensyaratkan orang tua atau orang yang ditokohkan harus berjalan paling depan, artinya menghargai para tetua dan melambangkan dalam setiap aktivitas apapun, masyarakat selalu mengikuti aturan adat.

Cara berjalan ini juga memiliki tujuan etis yaitu untuk mencegah orang membicarakan atau menjelek-jelekkan orang lain yang itu tidak dibolehkan oleh adat, karena berjalan berdampingan akan menstimulus seseorang untuk membicarakan keburukan orang lain.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Komunitas ini mendiami lereng pegunungan Kendeng, dengan luas wilayah sekitar 5.101,85 hektare. Secara administratif terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Berkisar 160 km sebelah barat Kota Metropolitan Jakarta.
Read More

Mengenal dan Mengenang Syekh Nawawi di Tanara

SERANG - Banten merupakan daerah di Jawa yang kaya akan wisata ziarah, di antaranya makam Syekh Mansyur di Cikaduen Pandeglang, Masjid Agung Banten Lama di Kasemen Kota Serang, hingga Makam Sultan Pangeran Sunyararas di Tanara, Kabupaten Serang. Selain makam Sultan Pangeran Sunyararas di Tanara, masih banyak lagi wisata ziarah lainnya di Banten yang keberadaannya sangat banyak dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal, nusantara hingga wisatawan mancanegara. Bahkan menurut data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banten, wisata ziarah merupakan salah satu wisata yang banyak mendapatkan kunjungan. Terlebih di saat hari besar agama Islam, seperti Lebaran Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Islam hingga Isra Miraj.


Makam Sultan Pangeran Sunyararas berlokasi di Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, tempat di mana ulama besar dunia dilahirkan dan berkarya untuk umat manusia. Makam Sultan Pangeran Sunyararas juga menjadi salah satu wisata ziarah yang banyak dikunjungi wisatawan. Di hari biasa, wisatawan yang berkunjung kebanyakan ibu-ibu pengajian dan kelompok majelis taklim yang berada di wilayah Banten. Di hari besar agama Islam, pengunjung yang datang banyak dari daerah luar Banten, seperti Garut, Tasikmalaya, Semarang, Solo, Surabaya, hingga Makasar, Sulawesi Tenggara. "Apalagi kalau acara haul Syekh Nawawi Al Bantani Tanara, pengunjung yang datang itu bisa puluhan ribu dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap haul, banyak pejabat pemerintah yang hadir. Malah pernah dihadiri Presiden SBY juga," ujar Randhoni (24), warga Tanara yang sering berziarah ke makam tersebut, kepada Banten Raya, Senin (17/9).

Untuk ke makam Sultan Pangeran Sunyararas, hanya membutuhkan waktu 50-70 menit jika naik kendaraan pribadi dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Lokasi makam Sultan Pangeran Sunyararas ini berada di kampung halaman ulama besar dunia, yakni Syekh Nawawi Al Bantani Tanara. Syekh Nawawi itu sendiri wafat dan dimakamkan di Ma'la Kota Mekkah, namun tidak sedikit wisatawan yang berkunjung ingin mengetahui lebih dekat napak tilas Syekh Nawawi tersebut. Apalagi sejarah bercerita banyak tentang kehebatan Syekh Nawawi yang karyanya menjadi rujukan utama  berbagai pesantren di tanah air, bahkan di luar negeri. Syekh Nawawi telah menghasilkan banyak buku yang menjadi pegangan dan kajian  ulama dalam dan luar negeri. "Sebagian karya beliau ditulis di kampung ini, bahkan beberapa cukilan karyanya masih ada di tempat kelahiran beliau di Kampung Pesisir, Tanara ini," ujar salah seorang petugas jaga makam Sultan Pangeran Sunyararas yang enggan disebutkan namanya.

Menurut Ahmad Sholeh (22), mahasiswa UIN Ciputat yang ziarah ke makam tersebut, bagi kalangan intelektual Islam, sosok Syekh Nawawi menjadi salah satu magnit tersendiri. Terlebih ketika sudah mempelajari karyanya yang menjadi sumbangan besar bagi perkembangan agama Islam di dunia. "Indonesia harusnya bangga memiliki syekh yang mendunia karena ilmunya, seperti Syekh Nawawi ini. Karena itulah, saya sering ziarah dan mengunjungi tempat-tempat yang pernah didiami beliau untuk mengenang sekaligus mencari berkah dan hikmahnya," kata Sholeh.

Berbeda dengan yang diungkapkan Asmawi (47), warga Kresek, Kabupaten Tangerang. Kata Asmawi, ia selalu mengajak keluarganya untuk ziarah ke makam-makam ulama besar dan sultan yang menyebarkan ajaran Islam di Banten dan Indonesia. Bagi Asmawi, ziarah itu penting untuk dilakukan sebagai bahan ajar dan pendidikan agama yang efektif kepada anak-anaknya. Sekaligus mengingatkan dirinya atas kematian, bahwa semua yang ada di dunia ini, termasuk nyawa dirinya adalah kepunyaan Allah SWT. "Jadi motif saya ziarah itu semata-mata mengingat akan kebesaran Allah, sekaligus memberikan pendidikan agama dan dakwah yang efektif bagi anak-anak saya, sehingga kelak bisa menjadi ulama besar seperti Syekh Nawawi. Setidaknya ikut mengamalkan ajaran-ajaran Islam di kehidupannya sehari-hari," kata Asmawi. Komplek wisata ziarah Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi tersebut sebenarnya ada empat lokasi, di sekitar Desa Tanara. Selain makam Sultan Pangeran Sunyararas, ada juga Masjid Agung Tanara (Bait An-Nawawi) di Kampung Pesisir, Kecamatan Tanara, Kabupaten  Serang, yang kerap dikunjungi wisatawan. Lokasi masjid tersebut dekat sekali dengan rumah tempat Syekh Nawawi dilahirkan. Bahkan di masjid itulah konon Syekh Nawawi menuliskan karya-karyanya yang menjadi rujukan seluruh umat Islam di dunia.

Sekilas tentang Syekh Nawawi

Syekh Muhammad bin Umar Nawawi Al-Bantani Al-Jawi lahir di Kampung Pesisir, Desa Tanara,  Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, pada tahun 1815 . Rumah Syekh Nawawi persis berada di samping Masjid Bait An-Nawawi yang kemudian dikenal dengan masjid Agung Tanara. Masjid tersebut merupakan peninggalan Raja Banten Pertama,  yaitu Sultan Maulana Hasanuddin, yang memerintah kesultanan Banten tahun  1552 hingga 1570. Sejak umur 15 tahun, Syekh Nawawi pergi ke  Makkah dan tinggal daerah Syi’ab Ali. Syekh Nawawi wafat pada usia 82 tahun, tepatnya tahun1897, dan dimakamkan di Ma’la, Kota Mekkah. Syekh Nawawi terkenal karena kitab-kitab yang diterbitkan di Mesir. Kitab-kitab karangannya menjadi bagian dari kurikulum  pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina,  Thailand, dan juga negara-negara di Timur Tengah. Atas karyanya itu, semua orang menjulukinya sebagai Imam Nawawi kedua. Kitab yang ditulisnya dan yang terkenal serta banyak dipelajari ada sekitar 22 kitab.  Syekh Nawawi pernah membuat tafsir Al Quran berjudul Mirah Labid yang berhasil  membahas dengan rinci setiap ayat suci Al Quran. Buku beliau tentang etika  berumah tangga, berjudul Uqudul Lijain diterjemahkan ke Bahasa Indonesia,  telah menjadi bacaan wajib para mempelai yang akan segera menikah. Kitab  Nihayatuz Zain sangat tuntas membahas berbagai masalah fiqih (syariat  Islam). Sebuah kitab kecil tentang syariat Islam yang berjudul Sullam (Habib  Abdullah bin Husein bin Tahir Ba’alawi), diberinya Syarah (penjelasan rinci)  dengan judul baru Mirqatus Su’udit Tashdiq satu karya beliau dalam hal kitab  hadits adalah Qoul, syarah Kitab Lubabul Hadith (Imam Suyuthi). Kitab Hadits  lain yang sangat terkenal adalah Nashaihulbergantian oleh Alm. KH Mudzakkir  Ma’ruf dan KH Masrikhan (dari Masjid Jami Mojokerto) dan disiarkan berbagai  radio swasta di Jawa Timur. Kitab itu adalah syarah dari kitabnya Syekh Ibnu  Hajar Al-Asqalani. (Sofiyan)

Read More

Rabu, 17 Februari 2016

Tiga Jalur Rel KA Akan Diaktifkan Kembali

SERANG – Kementerian Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Kemenhubkominfo) melalui Pemprov Banten, pemerintah kabupaten/kota, rencananya akan kembali mengaktifkan tiga jalur kereta yang sebelumnya tidak berfungsi. 
 

Menurut Staf Ahli Bidang Ekonomi Kawasan dan Kemitraan Kementrian Perhubungan, Umiatun Hayati Triastuti, kedatangannya ke Pemprov Banten untuk meminta kepada Pemprov Banten, pemerintah kabupaten/kota, untuk segera melakukan langkah-langkah sosialisasi, rencana reaktivasi tiga jalur kereta api di wilayah Banten Selatan.

“Reaktivasi jalur kereta di Banten Selatan sudah menjadi program strategis pemerintah pusat dan programnya tersebut sudah berjalan tahun ini. Rencananya, Pak Menteri dan Pak Gubernur akan meresmikan stasiun Maja di Kabupaten Lebak pada Juni mendatang,” kata Hayati usai bertemu Gubernur Banten Rano Karno di Pendopo Gubernur Banten, Kawasan Pusat Pemerintah Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang.

Ia menilai, sosialisasi ini diperlukan dan membutuhkan bantuan pemerintah daerah untuk melakukan sosialisasi. Alasannya rel tersebut sudah lama tidak aktif, hal itu mengakibatkan banyak bangunan milik warga di atas rel.“Tentunya pemerintah daerah yang bisa melakukan komunikasi dengan masyarakat, terkait bangunan yang berdiri di atas rel,” ungkapnya.

Di lokasi yang sama, Kepala Dishubkominfo Banten Revri Aroes mengatakan, Kementerian Perhubungan akan mengaktifkan kembali tiga jalur kereta api di Provinsi Banten yang telah lama nonaktif. Ketiga jalur tersebut yakni, Rangkasbitung-Labuan, Cilegon-Labuan, Saketi-Malimping.

“Pertemuan tadi (Kemenhubkominfo dan Pemprov Banten-red) sudah melakukan pembahasan, terkait dengan reaktivasi jalur kereta api tiga jalur tersebut. Hasilnya, kami akan melakukan kajian, karena sudah ada masyarakat yang membangun rumah di atas rel kereta itu," kata Revri.

Terkait kendala tersebut, Revri mengaku, kemenhubkominfo menyerahkan kepada pemerintah daerah untuk melakukan sosialisasi dan inventarisasi. “Rencana sudah mengarah pada penertiban, namun menunggu koordinasi antar pemerintah daerah dan pusat terlebih dahulu," imbuhnya. (satibi)
 
Read More

Selasa, 09 Februari 2016

Batu Saung, Pantai Berpasir di Tepi Selat Sunda

CINANGKA - Senja belum habis. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyaksikan surya tenggelam yang memancarkan cahaya semburat jingga di ufuk barat. Namun sayang, saat itu langit mendung. Hujan tampaknya akan segera turun sehingga indahnya panorama senja di Selat Sunda tak bisa terlihat.


Banten cukup kaya dengan objek wisata pantai yang cocok untuk beburu keindahan sunset, salah satunya adalah Pantai Batu Saung di Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. Pada saat cuaca cerah, pantai berpasir ini sangat cocok sebagai tempat menikmati senja tenggelam.

Tak sulit untuk mengunjungi pantai ini. Bisa melewati jalur Cilegon-Anyer-Cinangka atau lewat jalur alternatif Serang-Ciomas-Padarincang-Cinangka. Lokasinya tak jauh dari perempatan Teuneung. Biaya masuknya hampir sama dengan pantai lainnya di kawasan wisata Carita dan Anyer yakni Rp20 ribu untuk sepeda motor dan Rp70 ribu untuk kendaraan roda empat. Bagi yang datang rombongan bisa negosiasi biaya masuk dengan pengelola.

Sambil menunggu waktu datangnya senja, pengunjung bisa berenang, bermain pasir, atau duduk santai di atas batu karang besar yang ada di ujung pantai. Pengunjung juga bisa bermain perahu, banana boat, atau ATV yang disewakan.

Di pinggir pantai ada beberapa saung yang bisa dipakai untuk duduk santai atau untuk makan bersama keluarga. Ada juga beberapa kios yang menjual kudapan atau makanan besar serta oleh-oleh. Sebelum membeli sebaiknya pengunjung bertanya terlebih dahulu harganya. (qizink)

Read More

Jumat, 05 Februari 2016

Trip: Wisata Ke Kebun Buah Naga

CILEGON –  Kota Cilegon terkenal dengan Kota Industri, namun ternyata di kota kecil itu masih menyisakan perkebunan eksotik, salah satunya Perkebunan Buah Naga yang saat ini ramai dikunjungi warga sekitar.




Berada di Lingkungan Perigi, Kelurahan Cikerai, Kecamatan Cibeber, Taman Buah Naga itu dijaga dengan baik di sebuah kawasan bernama Waras Farm. Di lokasi wilayah pegunungan itu tanaman serupa pohon kaktus itu tumbuh subur diatas perbukitan.

Warga bebas masuk ke lokasi tanpa dipungut bayaran. Warga juga bebas berfoto dengan buah berwarna merah itu. Warga hanya dikenakan biaya jika memetik Buah Naga dengan dibandrol sekitar Rp 30.000 per kilogramnya.

Pada Minggu (27/12) siang, Banten Raya berkunjung ke lokasi Perkebunan Buah Naga tersebut. Untuk menuju lokasi memang perlu dibutuhkan perjuangan ekstra. Ini dikarenakan untuk sampai ke tempat tujuan diperlukan niatan yang kuat. Sebab harus melewati jalan yang berliku dan menanjak.

Meski jalan sudah teraspal, namun diharapkan dalam berkendara diperlukan kehati-hatian karena di wilayah sekitar banyak terdapat curam akibat galian C eksploitasi lahan, ditambah jalan yang cukup sempit yang hanya muat satu kendaraan roda empat saja. Namun begitu, ketika sampai di lokasi kita akan dimanjakan dengan suasana perbukitan yang cukup asri. Pepohonan masih tampak hijau.

Berkunjung ke Taman Buah Naga itu juga tidak perlu khawatir kelaparan atau kepanasan, ini dikarenakan di lokasi sekitar terdapat saung yang sudah disediakan pengelola dengan menyediakan berbagai makanan yang siap disajikan kepada para pengunjung dengan harga tak merogoh kocek terlalu dalam.

Namun cukup disesalkan, pada saat Banten Raya berkunjung pengelola baru saja panen Buah Naga. Sehingga buah yang biasa digunakan untuk minuman segar itu hanya tersedia sedikit. Namun begitu pengunjung tetap datang untuk menikmati suasana asri di wilayah sekitar, baik hanya sekedar mencari udara segar atau hanya untuk foto-foto.

Adalah Sutrisno (35) pengelola Waras Farm. Dia menceritakan, awalnya Buah Naga yang ditanam di wilayah perkebunannya hanya sebatas uji coba apakah tanaman Buah Naga cocok ditanam di wilayah Cilegon. Namun ternyata buah tersebut tumbuh subur dan bahkan berbuah lebih cepat. Melihat pertumbuhan yang cukup baik, akhirnya pengelola mengembangbiakannya.

Saat ini, Buah Naga yang ditanam di wilayah sekitar terdapat lebih dari 1.000 batang. “Kita juga awalnya tidak menyangka kalau Buah Naga ini bisa berkembang dengan baik. Biasanya kan tanaman akan sulit tumbuh bila iklimnya berbeda. Ternyata setelah kita coba Buah Naga cocok ditanam disini,” paparnya.

Dia mengaku cukup senang warga antusias menyambut Taman Buah Naga tersebut. Ini dikarenakan biasanya Buah Naga cukup sulit didapatkan. Sebab hanya ditanam di daerah tertentu saja. Saat ini, kata dia, Waras Farm juga bukan hanya sebagai penghasilan tanaman Buah Naga, namun menjadi tempat pembelajaran budi daya tanaman bagi para pelajar.

“Banyak dari pihak sekolah melakukan ujian praktek di sini, mulai dari PAUD (pendidikan usia dini) hingga SMA. Kita juga sudah melakukan kerjasama dengan sekolah-sekolah dengan biaya yang sangat ringan. Kami juga membagikan bibit buah naga untuk ditanam di wilayah sekolah atau pekarangan rumah setelah melakukan ujian praktek,” paparnya.

Sementara itu, Laura Irawati salah seorang pengunjung mengaku penasaran ketika mendengar ada kebun Buah Naga di Cilegon. Akhirnya dia mencari tahu informasi tersebut dan ternyata benar. “Saya terus terang baru tahu dari teman-teman tentang kebun buah di Cikerai Cilegon. Dan ternyata memang benar, banyak buah naga yang bisa dipetik langsung oleh pengunjung yang datang.

Selain buah naga, ada sawo, cabai, pepaya, terong bahkan pohon pucuk merah yang bisa dibeli. Tapi yang paling dominan memang buah naga dan anak-anak excited sekali memetiknya meski udara sangat panas tadi. Tempat seperti ini sangat diperlukan di Cilegon,” ujarnya. (USMAN TEMPOSO)

Sumber: http://www.bantenraya.com
Read More

Trip: Cukup Bayar Rp 2.000 untuk Menikmati Keindahan Kota Cilegon

CILEGON - Kalau di Lombok ada Gunung Rinjani, Malang ada Gunung Mahameru dan Bromo, bagaimana Cilegon? Ternyata Cilegon juga tak kalah soal wisata alam. Hal itu dibuktikan dengan keindahan Watulawang yang berada di Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol.



Bagi yang suka travel atau hiking mungkin sudah tidak asing lagi dengan wisata alam Gunung Watulawang. Namun bagi yang mungkin belum pernah mencobanya, Gunung Watulawang mungkin bisa menjadi referensi wisata akhir pekan pilihan bersama rekan atau keluarga. Namun barang tentu harus menyiapkan stamina yang cukup untuk mendakinya.

Namun jangan khawatir, saat ini warga sekitar sudah menyiapkan jalan setapak yang muat untuk kendaraan roda dua jika anda tidak ingin mengeluarkan tenaga banyak. Jadi pagi para traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua hingga sampai sekitar lokasi. Cukup bayar Rp 2.000 saja untuk biaya parkir. Jadi kendaraan yang kita bawa dijamin aman.

Gunung Watulawang, begitu masyarakat sekitar menyebutnya. Menurut cerita masyarakat sekitar, konon Watulawang merupakan sebuah batu yang membelah dua wilayah dan Batu tersebut membelah dua gunung, yakni Gunung Batur dan Gunung Gede yang merupakan perbatasan antara Merak dan Bojonegara, atau tepatnya terletak di Gunung Pengobelan, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak.

Konon nama Batu Lawang diambil dari batu yang sangat besar dan membelah dua gunung tersebut yang kemudian dijadikan pintu atau dalam bahasa sekitar disebut lawang. Terlepas dari mitosnya, Watulawang memang menyimpan wisata alam nan eksotis. Dari atas gunung kita bisa melihat pemandangan Kota Serang, Cilegon, Merak dan sekitarnya.

Erwin Suganda, warga Kecamatan Grogol mengaku, dirinya sering berkunjung ke Gunung Watulawang. Menurutnya, Gunung Watulawang sangat bagus dan memiliki wisata alam yang menarik. Hal itu juga didukung dengan pemandangan alam yang memanjakan mata. "Menurut saya sih bagus banget. Dari atas gunung itu kita bisa liat pemandangan Kota Cilegon, lebih bagus lagi kesananya waktu sore hari karena bisa lihat langsung terbenamnya matahari," katanya kepada Banten Raya, Kamis (27/1).

Namun demikian, ternyata wisata gunung tersebut kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Warga juga melakukan gotong royong untuk membuat akses jalan. "Kalau soal perhatian dari pemerintah saya kurang tahu, tapi saya sempat ngobrol dengan warga sekitar kalau masyarakat dan para pemuda setempat melaksanakan gotong royong untuk membuat akses jalan menuju gunung Watulawang," jelasnya.

Erwin mengaku, cukup miris melihat kondisi Watulawang. Ini dikarenakan kondisinya kurang terawat. "Kondisinya sedikit kurang terawat karena terdapat gubuk yang sudah rubuh dan itu belum diperbaiki karena terkendala biaya dan juga terdapat sedikit sampah," terangnya.

Menurutnya, Watulang bisa menjadi tempat wisata pilihan karena menyediakan pemadangan yang menarik. Selain itu bianyanya juga sangat murah. "Cuma bayar Rp 2.000 saja. Itupun untuk parkir kendaraan," terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cilegon Buchori mengatakan, pihaknya juga mempunyai niatan untuk mengembangkan Watulawang. Namun demikian pihaknya terkndala dengan lahan. Ini dikarenakan lahan tempat wisata itu merupakan milik warga sekitar. "Jadi kalau ingin mengembangkan secara total harus dibeli lahannya. Namun kan terkendala biaya. Kalau lahan ini tidak dibeli nanti lahannya ditanami kacang atau tanaman lainnya," ujarnya.

Dikatakan Buchori, sebelumnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten pernah melakukan penataan dengan membuat saung di Watulawang. Namun ternyata saung tersebut kurang mendapatkan restu dari warga sekitar. "Bahkan akhirnya ada sempat saungnya di bakar. Banyak kendala dalam pengembangan wisata ini. Jadi investor sulit masuk ke wisata Watulawang ini," katanya. (USMAN TEMPOSO)

Read More

Rabu, 03 Februari 2016

Trip: Hawanya Dingin, Suasana Mirip Seperti Puncak

LEBAK - Belum banyak yang tahu, bila di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, terdapat perkebunan teh yang cukup luas.Sejak satu bulan belakangan ini, Bupati Iti Octavia Jayabaya, serta sejumlah pejabat eselon II di lingkungan Pemkab Lebak, kerap membicarakan perkebunan teh di Kampung Cikuya, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cibeber.





Kepada para wartawan, Bupati Iti Octavia kerap bercerita tentang keindahan suasana pemandangan perkebunan teh tersebut. Karena didorong rasa penasaran cerita dari Bupati, maka pekan lalu, Banten Raya menuju Cibeber untuk melihat langsung perkebunan teh tersebut. 

Setibanya di lokasi, tepatnya di Kampung Cikuya, Desa Hegarmanah, ternyata benar apa yang diceritakan Bupati Iti Octavia Jayabaya. Di Cikuya ada 120 hektar perkebunan teh yang ditanam oleh pengusaha dari luar Lebak. 

Dari 120 hektar tersebut, baru 40 hektar yang sudah mulai bisa dipetik. Selain menguntungkan bagi pajak daerah, keberadaan perkebunan teh yang pertama di Lebak ini pun, menguntungkan masyarakat sekitar Desa Hegarmanah. Mengapa demikian? karena tenaga kerja yang diberdayakan, sebagian besar menggunakan masyarakat setempat. 

Yang lebih menakjubkan lagi, suasana perkebunan teh di Kampung Cikuya, nyaris mirip dengan suasana perkebunan teh di Puncak, Cianjur, Jawa Barat. Selain hawanya sangat dingin, udara disekitar lokasi perkebunan teh itupun sangat bersih.

“Dulu, sebelum dilirik investor perkebunan teh, lahan diperbukitan di kampung kami ini, merupakan lahan yang tidak produktif. Namun setelah disulap menjadi perkebunan teh, maka tidak hanya mendukung perekonomian rakyat melalui tenaga kerjanya, tetapi menjadikan Cikuya memiliki daerah wisata perkebunan teh,” kata Sarman, warga Kampung Cikuya.

Mengingat baru 40 hektar yang digunakan untuk penanaman teh, maka secara bertahap, lahan seluas 120 hektar yang masih tersisa tentu akan terus berkembang menjadi lahan perkebunan teh yang baru. Dengan semakin luas jumlah perkebunan tehnya, tentu pemkab berharap akan semakin banyak pula tenaga kerja yang akan terserap. 

Karena suasananya nyaris menyerupai perkebunan teh di Puncak, Cianjur, maka pemkab pun berharap, suatu saat nanti, perkebunan teh di Cibeber, menjadi lokasi wisata, yang mampu membawa daya tarik tersendiri bagi masyarakat Lebak, maupun masyarakat dari luar Banten untuk mengunjunginya. 

“Belum lama inipun, saya bersama Ibu Bupati dan rekan-rekan pejabat pemkab, datang langsung ke perkebunan teh. Harus kami akui, keberadaannya tidak jauh berbeda dengan perkebunan teh di Puncak, Cianjur. Selain itu, pemkab tentu bangga, karena perusahaan perkebunan teh tersebut menggunakan tenaga kerja lokal,” kata Asda II Pemkab Lebak Budi Santoso. (Hudaya Meidana)

Read More

Sabtu, 23 Januari 2016

Paket Proyek Rp 2,74 Triliun Dilelang

SERANG - Pemerintah Provinsi Banten mulai melelangkan sejumlah paket proyek senilai Rp 2,74 triliun.
Paket lelang tersebut berasal dari 37 SKPD yang sudah menyerahkan RUP (rencana umum pengadaan). 




Plt Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Pemprov Banten Eneng Nurcahyati mengungkapkan, data paket lelang sebesar Rp 2,74 triliun dari 37 SKPD tersebut diperoleh pada Senin (18/1) pukul 16.00."Hingga hari ini (kemarin-red), pukul 16.00, sudah ada 37 SKPD yang menyerahkan RUP. Sedangkan 5 SKPD sedang dalam proses," ujar Eneng.

Data sementara sampai dengan kemarin sore, paket proyek yang sudah masuk untuk penyedia 5.201 paket dengan nilai Rp 1,69 triliun, untuk swakelola ada 1.006 paket senilai Rp 1,05 triliun, sehingga totalnya Rp 2,74 triliun.

Untuk SKPD yang saat ini masih memproses, Eneng berharap agar dapat segera mempersiapkan data agar memepercepat proses lelang. Untuk yang telah selesai, diharapkan untuk terus melakukan koordinasi dengan ULP.

Ketua Harian Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Banten Ardius mengatakan, jumlah paket lelang terbanyak ada di Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD) sebanyak 302 paket. Sedangkan pagu terbesar ada di Dinas Bina Marga dan Tata Ruang (DBMTR) Provinsi Banten senilai Rp 722,27 miliar. "Proyek ratusan miliar dari  DBMTR berupa paket fisik konstruksi e-purchasing sebanyak 43 paket, pengadaan langsung 118 paket. Rinciannya bisa dilihat di website LPSE Banten,” ujarnya.

Diketahui, beberapa SKPD yang telah menayangkan paket lelang tersebut di antaranta Biro Humas dan Protokol, Biro Aset dan Perlengkapan, Badan Pemperdayaan Perempuan dan Masyarakat Desa (BPPMD), Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD), Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Dinas Kelautan Perikanan (DKP), Dinas Pertanian dan Perternakan dan lainnya. (rahmat)

Read More

Jumat, 08 Januari 2016

Trip: Curug Manjangan; Indah, Namun Belum Populer

BAROS - Nama Curug Manjangan mungkin masih asing karena belum dikenal luas oleh masyarakat. Padahal keberadaan Curug Manjangan sebetulnya hanya berjarak tiga kilometer dari Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), tepatnya berada di Kampung Curug Manjangan, Desa Taman Sari, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang.



 Dari segi panorama tidak kalah indah dengan curug-curug lain. Karena pengunjung disuguhi panorama terjunan air setinggi enam meter berada di lembah kaki Gunung Karang yang terlihat sangat indah. Di puncak terjunan air terdapat sebuah batu besar secara alami membentuk dua aliran sungai kecil. Keindahan bertambah di saat aliran air melewati batu berundak-undak yang membuat tetesan air menyejukan pandangan mata.

Untuk menuju curug dapat ditempuh dengan menaiki kendaraan umum jurusan Serang-Pandeglang maupun pribadi sekitar 15 menit dari KP3B dan lima menit dari kantor Kecamatan Baros. Setelah datang ke lokasi akan ada warga yang bersedia mengantarkan secara sukarela karena sementara ini tidak tersedia retribusi tiket masuk maupun parkir kendaraan.

Badriah, salah seorang warga Kampung Curug Manjangan mengaku tidak mengetahui sejarah curug. “Asal-usul sejarah nama Curug Manjangan  tidak ada orang yang mengetahui secara pasti. Warga sini hanya bisa menduga-duga kalau waktu zaman dulu banyak manjangan hidup di sekitar curug,” kata Badriah, warga Kampung Curug Manjangan, Desa Taman Sari, Kecamatan Baros, Senin (2/3).

Menurut Badriah, keberadaan Curug Manjangan belum sepupuler dengan curug lain yang sudah dikenal masyarakat secara luas. Sementara ini baru populer di kalangan warga sekitar.“Seiring berjalan waktu kini perlahan mulai dikenal warga dari luar kampung berkat warga sini yang bercerita dari mulut ke mulut. Alhamdulilah setiap pekan ada saja pengunjung yang sengaja datang main untuk mandi maupun sekadar berselfe ria,” katanya.

Dikatakan Badriah, kedatangan pengunjung ini belum lah signifikan jumlahnya. Karena baru sekitar puluhan orang saja. “Tetapi sekalipun sedikit membawa keberkahan tersendiri bagi warga sini. Khususnya bagi warga yang buka warung menjadi lebih ramai dari hari biasa,” katanya.

Sukemi, warga lain menambahkan pengunjung yang bermain ke curug didominasi remaja. “Kebanyakan anak-anak sekolah. Mereka biasanya menjelang akhir pekan setelah pulang sekolah menyempatkan diri mengunjungi curug,” katanya.

Curug Manjangan ramai dikunjungi ketika cuaca sedang cerah. Kalau sedang musim hujan seperti sekarang ini akan terlihat sepi.“Sebab akses jalan masih alami berupa tanah. Untuk sampai ke Curug harus menuruni jalanan terjal sehingga kalau hujan licin, kalau tidak berhati-hati bisa terjatuh akibat terpeleset,” katanya.(PURNAMA)

Read More

Selasa, 05 Januari 2016

Kades Cisereh Kecewa Proyek MCK

CISATA - Kepala Desa Cisereh, Kecamatan Cisata, Rohman mengaku kecewa dengan proyek Mandi Cuci Kakus (MCK) yang ada di desanya. Sebab, bangunan sarana air bersih bantuan dari Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman (DSDAP) Provinsi Banten di Kampung Kadukandel tidak bisa digunakan. Proyek pembangunan MCK itu belum selesai, namun ditinggalkan oleh kontraktor pelaksana yang ditunjuk DSDAP Banten untuk mengerjakan.
 

Akibatnya sarana tersebut tidak bisa dimanfaatkan warga setempat lantaran tidak ada airnya.“Kami sangat kecewa dengan pelaksana proyek tersebut. Bangunan belum selesai, tapi sudah ditinggalkan. Padahal saya dan warga di sini sangat berharap sarana tersebut bisa bermanfaat buat warga, sebab warga di sini sangat membutuhkanya,” kata Rohman kepada Banten Raya, Senin (4/1).

Menurut dia, alokasi anggaran pembangunan MCK sekitar Rp130 juta, namun dia mengaku tidak hafal nama perusahaan yang mengerjakannya. Sebab pada proses pekerjaan, tidak ada papan informasi, sehingga dia dan warganya tidak mengetahui perusahannya.“Sebelum melakukan pekerjaan ini, dari pihak pelaksana pernah ada koordinasi dengan saya melalui telepon seluler.

Namun sampai saat ini tidak ada koordinasi lagi. Karena itu saya meminta kepada DSDAP untuk meninjau kembali bangunan ini, dan memanggil pihak pelaksana agar dapat menyelesaikan bangunan, supaya manfaatnya bisa dirasakan warga,” harapnya.

Amah, warga Kampung Kadukandel menuturkan, bangunan MCK selesai sejak dua pekan lalu, namun saat dilakukan pengeboran di pinggir bangunan, airnya tidak keluar. Bahkan sempat berpindah ke titik lain, namun tetap saja airnya tidak keluar.“Waktu ada pekerjanya, saya pernah tegur. Kalau sumur bor itu tidak keluar airnya.

Tapi para pekerjanya malah menjawab, biarin saja lah, yang penting bangunanya beres saat akan diperiksa. Padahal kami sangat mebutuhkan air, dan kami anggap percuma saja kalau ada bangunan MCK di sini tapi tidak bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu kami berharap dinas bisa segera mencarikan jalan keluarnya,” katanya. (agus)

Sumber: http://bantenraya.com
Read More

Selasa, 22 Desember 2015

Pabrik Persandian Pertama Indonesia

TANGSEL - Indonesia resmi memiliki pabrik persandian pertama. Lokasinya di Komplek Taman Tekno BSD, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang baru diresmikan Senin (21/12).




Pabrik milik PT Indoguardika Cipta Kreasi (ICK) ini memproduksi perangkat keras dan lunak untuk melindungi perangkat komunikasi dari sadap atau peretas. Semua alat canggih anti sadap diciptakan di pabrik yang dikelola anak bangsa ini."Ada SMS, voice, chat, telepon, alat pengacak sinyal, sampai hate anti sadap. Kami sudah ciptakan dari tahun 2014," ungkap Agung Setya Bhakti, Direktur Umum PT ICK, saat ditemui di pembukaan pabrik perusahannya.

Menurutnya, ada sekitar seratus anak bangsa yang dipekerjakan. Itu pun belum dihitung para mahasiswa yang dipekerjakan menjadi programer di sejumlah kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Surabaya dan Bandung."Saya datang ke kampus-kampus, mencari bakat-bakat terpendam programmer. Ternyata sangat banyak, mereka sangat cerdas. Bagi yang bersedia ikut, langsung saya rekrut," kata Agung.

Dari tangan anak bangsa inilah, ICK berhasil memproduksi berbagai alat komunikasi anti sadap dan juga pemecah sandi. Bahkan, perusahaan besar asing yang berdiri megah di berbagai negara tetangga sudah menggunakan anti sadap milik ICK."Kemarin lagi pameran di Jerman, ada perusahaan asal Asia yang memakainya. Juga ada beberapa di Timur Tengah, di Indonesia pun sudah banyak," kata Agung.

Dengan pengoperasian pabrik ini, ia berharap bisa memenuhi kreasi dari tangan anak bangsa. Serta mampu melahirkan alat canggih lainnya, demi melindungi Indonesia dari anti sadap. "Saatnya Indonesia punya sendiri alatnya, jangan melulu dari produk luar. Kita tidak tahu alat itu dipasangi alat lagi atau tidak," kata Agung. (iwan)

Sumber: http://bantenraya.com
Read More

Sabtu, 28 November 2015

Trip: Pantai Ketapang, Surga Pantai Tersembunyi di Tepi Selat Sunda

Anyer - Kawasan wisata pantai di Anyer dan Cinangka, Kabupaten Serang, kerap menjadi target destinasi wisatawan saat musim liburan, termasuk pada libur lebaran.Salah satu objek wisata di kawasan Anyer yang menarik dikunjungi adalah Pantai Ketapang.




Sang surya mulai menyapa senja. Langit yang semula cerah perlahan berubah menjadi jingga dan merah saga. Di tepi Pantai Ketapang, ratusan wisatawan menyaksikan potongan senja ini dengan berbagai aktivitas. Ada yang tetap berenang, menikmati kudapan, atau mengabadikannya dengan kamera ponsel.

Letak Pantai Ketapang cukup tersembunyi, karena tidak berada di tepi jalan raya dan tak ada penunjuk jalan menuju kawasan ini. Surga pantai ini terletak di Kampung Sukamanah, Desa Anyar, Kecamatan Anyer. Wisatawan dari arah Cilegon bisa mengunjunginya dengan mengarahkan kendaraan ke pertigaan Kampung Kepuh, sekira 300 meter dari gapura kawasan Anyer. Dari pertigaan ini, Pantai Ketapang bisa ditepuh hanya sekitar lima menit dengan kendaraan. Kawasan Pantai Ketapang pernah diproyeksikan oleh Pemkab Serang sebagai lokasi pembangunan Masjid Terapung Banten (MTB) namun dibatalkan. Panitia pembangunan MTB kini memilih lokasi lain.

Surga pantai ini bisa dinikmati tanpa dipungut biaya sama sekali. Kendaraan wisatawan bisa bebas parkir di tapi pantai ini. “Selain pemandangannya lumayan bagus, di pantai ini gratis. Tidak seperti pantai lain yang sudah diportal sehingga harus bayar,” ungkap Desi, salah seorang pengunjung, Kamis (31/7/2014) lalu.

Selain bisa menikmati pemandangan saat matahari tenggelam dari tepi Selat Sunda, wisatawan juga bisa berenang atau sekadar bermain air laut di pantai ini. Namun perlu hati-hati saat berenang, karena sebagai besar pantai ini dipenuhi karang. Pada saat air surut, pengunjung juga bisa menyaksikan belasan pemancing gurita dengan bambu panjang atau ibu-ibu pencari rumput laut di pantai ini. Jika ingin menikmati ikan segar, pengunjung bisa membelinya kepada nelayan yang baru pulang melaut, mencarinya di Pelabuhan Ikan Anyer yang jaraknya hanya seratusan meter. Bila tak mendapatkan ikan segar dari nelayan, pengunjung bisa membelinya dari pasar ikan di pertigaan Kampung Kepuh.

Wisatawan yang memiliki banyak uang dan ingin menikmati keindahan pantai lainnya, dari Pantai Ketapang bisa menyewa perahu nelayan untuk menuju Pulau Sanghyang. Biaya sewa tergantung perahu dan waktu sewa dengan harga berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Di Pulau Sanghyang pengunjung bisa melakukan aktivitas pantai seperti memancing, menyelam, atau sekedar berenang di pulau yang belum banyak penghuninya tersebut. (*)

Read More

Kamis, 26 November 2015

Trip: Pesona Gunung Honje

PANDEGLANG - Gunung Honje memang tidak setinggi gunung-gunung lain yang berada di Pulau Jawa. Ketinggian Gunung Honje hanya sekitar 700 meter dpl,  tapi di gunung ini kita akan disuguhi pesona lain karena menawarkan panorama vegetasi hutan pegunungan rendah (sub montana) dan satwa-satwa liar saat kita melakukan treking ke gunung tersebut. Di lokasi ini kita juga bisa bermain kano menyusuri Sungai Cigenter di kawasan Pulau Handeuleum, Kampung Paniis Desa Tamanjaya Kecamatan Sumur. Lokasi ini  juga menawarkan atraksi wisata lain yang tak kalah menarik dan menantang yaknui treking ke Gunung Honje.
Read More

Heri Azhari Kecewa

SERANG - Setelah sempat minim komentar, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Serang Heri Azhari akhirnya kemarin mau blak-blakan soal insiden pengusiran terhadapnya yang dilakukan Ketua DPRD Kabupaten Serang Muhsinin di ruang paripurna.
Read More

Selasa, 24 November 2015

Ketua DPRD Usir Ketua Komisi II



Read More

Senin, 23 November 2015

Sekilas Jejak Syekh Maulana Mansyuruddin

CIKADUEUN adalah nama desa di Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Untuk sampai ke desa itu tidak sulit, cukup naik angkutan kota (angkot) dari Pandeglang dan hanya menghabiskan waktu sekitar setengah jam. Jika dari pusat kota Provinsi Banten bisa naik bus atau kendaraan premen yang hanya memakan waktu sekitar satu jam.
Read More

About Me

Popular Posts

Designed By Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates