Tampilkan postingan dengan label Pelesiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelesiran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Februari 2016

Batu Saung, Pantai Berpasir di Tepi Selat Sunda

CINANGKA - Senja belum habis. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyaksikan surya tenggelam yang memancarkan cahaya semburat jingga di ufuk barat. Namun sayang, saat itu langit mendung. Hujan tampaknya akan segera turun sehingga indahnya panorama senja di Selat Sunda tak bisa terlihat.


Banten cukup kaya dengan objek wisata pantai yang cocok untuk beburu keindahan sunset, salah satunya adalah Pantai Batu Saung di Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. Pada saat cuaca cerah, pantai berpasir ini sangat cocok sebagai tempat menikmati senja tenggelam.

Tak sulit untuk mengunjungi pantai ini. Bisa melewati jalur Cilegon-Anyer-Cinangka atau lewat jalur alternatif Serang-Ciomas-Padarincang-Cinangka. Lokasinya tak jauh dari perempatan Teuneung. Biaya masuknya hampir sama dengan pantai lainnya di kawasan wisata Carita dan Anyer yakni Rp20 ribu untuk sepeda motor dan Rp70 ribu untuk kendaraan roda empat. Bagi yang datang rombongan bisa negosiasi biaya masuk dengan pengelola.

Sambil menunggu waktu datangnya senja, pengunjung bisa berenang, bermain pasir, atau duduk santai di atas batu karang besar yang ada di ujung pantai. Pengunjung juga bisa bermain perahu, banana boat, atau ATV yang disewakan.

Di pinggir pantai ada beberapa saung yang bisa dipakai untuk duduk santai atau untuk makan bersama keluarga. Ada juga beberapa kios yang menjual kudapan atau makanan besar serta oleh-oleh. Sebelum membeli sebaiknya pengunjung bertanya terlebih dahulu harganya. (qizink)

Read More

Jumat, 05 Februari 2016

Trip: Wisata Ke Kebun Buah Naga

CILEGON –  Kota Cilegon terkenal dengan Kota Industri, namun ternyata di kota kecil itu masih menyisakan perkebunan eksotik, salah satunya Perkebunan Buah Naga yang saat ini ramai dikunjungi warga sekitar.




Berada di Lingkungan Perigi, Kelurahan Cikerai, Kecamatan Cibeber, Taman Buah Naga itu dijaga dengan baik di sebuah kawasan bernama Waras Farm. Di lokasi wilayah pegunungan itu tanaman serupa pohon kaktus itu tumbuh subur diatas perbukitan.

Warga bebas masuk ke lokasi tanpa dipungut bayaran. Warga juga bebas berfoto dengan buah berwarna merah itu. Warga hanya dikenakan biaya jika memetik Buah Naga dengan dibandrol sekitar Rp 30.000 per kilogramnya.

Pada Minggu (27/12) siang, Banten Raya berkunjung ke lokasi Perkebunan Buah Naga tersebut. Untuk menuju lokasi memang perlu dibutuhkan perjuangan ekstra. Ini dikarenakan untuk sampai ke tempat tujuan diperlukan niatan yang kuat. Sebab harus melewati jalan yang berliku dan menanjak.

Meski jalan sudah teraspal, namun diharapkan dalam berkendara diperlukan kehati-hatian karena di wilayah sekitar banyak terdapat curam akibat galian C eksploitasi lahan, ditambah jalan yang cukup sempit yang hanya muat satu kendaraan roda empat saja. Namun begitu, ketika sampai di lokasi kita akan dimanjakan dengan suasana perbukitan yang cukup asri. Pepohonan masih tampak hijau.

Berkunjung ke Taman Buah Naga itu juga tidak perlu khawatir kelaparan atau kepanasan, ini dikarenakan di lokasi sekitar terdapat saung yang sudah disediakan pengelola dengan menyediakan berbagai makanan yang siap disajikan kepada para pengunjung dengan harga tak merogoh kocek terlalu dalam.

Namun cukup disesalkan, pada saat Banten Raya berkunjung pengelola baru saja panen Buah Naga. Sehingga buah yang biasa digunakan untuk minuman segar itu hanya tersedia sedikit. Namun begitu pengunjung tetap datang untuk menikmati suasana asri di wilayah sekitar, baik hanya sekedar mencari udara segar atau hanya untuk foto-foto.

Adalah Sutrisno (35) pengelola Waras Farm. Dia menceritakan, awalnya Buah Naga yang ditanam di wilayah perkebunannya hanya sebatas uji coba apakah tanaman Buah Naga cocok ditanam di wilayah Cilegon. Namun ternyata buah tersebut tumbuh subur dan bahkan berbuah lebih cepat. Melihat pertumbuhan yang cukup baik, akhirnya pengelola mengembangbiakannya.

Saat ini, Buah Naga yang ditanam di wilayah sekitar terdapat lebih dari 1.000 batang. “Kita juga awalnya tidak menyangka kalau Buah Naga ini bisa berkembang dengan baik. Biasanya kan tanaman akan sulit tumbuh bila iklimnya berbeda. Ternyata setelah kita coba Buah Naga cocok ditanam disini,” paparnya.

Dia mengaku cukup senang warga antusias menyambut Taman Buah Naga tersebut. Ini dikarenakan biasanya Buah Naga cukup sulit didapatkan. Sebab hanya ditanam di daerah tertentu saja. Saat ini, kata dia, Waras Farm juga bukan hanya sebagai penghasilan tanaman Buah Naga, namun menjadi tempat pembelajaran budi daya tanaman bagi para pelajar.

“Banyak dari pihak sekolah melakukan ujian praktek di sini, mulai dari PAUD (pendidikan usia dini) hingga SMA. Kita juga sudah melakukan kerjasama dengan sekolah-sekolah dengan biaya yang sangat ringan. Kami juga membagikan bibit buah naga untuk ditanam di wilayah sekolah atau pekarangan rumah setelah melakukan ujian praktek,” paparnya.

Sementara itu, Laura Irawati salah seorang pengunjung mengaku penasaran ketika mendengar ada kebun Buah Naga di Cilegon. Akhirnya dia mencari tahu informasi tersebut dan ternyata benar. “Saya terus terang baru tahu dari teman-teman tentang kebun buah di Cikerai Cilegon. Dan ternyata memang benar, banyak buah naga yang bisa dipetik langsung oleh pengunjung yang datang.

Selain buah naga, ada sawo, cabai, pepaya, terong bahkan pohon pucuk merah yang bisa dibeli. Tapi yang paling dominan memang buah naga dan anak-anak excited sekali memetiknya meski udara sangat panas tadi. Tempat seperti ini sangat diperlukan di Cilegon,” ujarnya. (USMAN TEMPOSO)

Sumber: http://www.bantenraya.com
Read More

Trip: Cukup Bayar Rp 2.000 untuk Menikmati Keindahan Kota Cilegon

CILEGON - Kalau di Lombok ada Gunung Rinjani, Malang ada Gunung Mahameru dan Bromo, bagaimana Cilegon? Ternyata Cilegon juga tak kalah soal wisata alam. Hal itu dibuktikan dengan keindahan Watulawang yang berada di Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol.



Bagi yang suka travel atau hiking mungkin sudah tidak asing lagi dengan wisata alam Gunung Watulawang. Namun bagi yang mungkin belum pernah mencobanya, Gunung Watulawang mungkin bisa menjadi referensi wisata akhir pekan pilihan bersama rekan atau keluarga. Namun barang tentu harus menyiapkan stamina yang cukup untuk mendakinya.

Namun jangan khawatir, saat ini warga sekitar sudah menyiapkan jalan setapak yang muat untuk kendaraan roda dua jika anda tidak ingin mengeluarkan tenaga banyak. Jadi pagi para traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua hingga sampai sekitar lokasi. Cukup bayar Rp 2.000 saja untuk biaya parkir. Jadi kendaraan yang kita bawa dijamin aman.

Gunung Watulawang, begitu masyarakat sekitar menyebutnya. Menurut cerita masyarakat sekitar, konon Watulawang merupakan sebuah batu yang membelah dua wilayah dan Batu tersebut membelah dua gunung, yakni Gunung Batur dan Gunung Gede yang merupakan perbatasan antara Merak dan Bojonegara, atau tepatnya terletak di Gunung Pengobelan, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak.

Konon nama Batu Lawang diambil dari batu yang sangat besar dan membelah dua gunung tersebut yang kemudian dijadikan pintu atau dalam bahasa sekitar disebut lawang. Terlepas dari mitosnya, Watulawang memang menyimpan wisata alam nan eksotis. Dari atas gunung kita bisa melihat pemandangan Kota Serang, Cilegon, Merak dan sekitarnya.

Erwin Suganda, warga Kecamatan Grogol mengaku, dirinya sering berkunjung ke Gunung Watulawang. Menurutnya, Gunung Watulawang sangat bagus dan memiliki wisata alam yang menarik. Hal itu juga didukung dengan pemandangan alam yang memanjakan mata. "Menurut saya sih bagus banget. Dari atas gunung itu kita bisa liat pemandangan Kota Cilegon, lebih bagus lagi kesananya waktu sore hari karena bisa lihat langsung terbenamnya matahari," katanya kepada Banten Raya, Kamis (27/1).

Namun demikian, ternyata wisata gunung tersebut kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Warga juga melakukan gotong royong untuk membuat akses jalan. "Kalau soal perhatian dari pemerintah saya kurang tahu, tapi saya sempat ngobrol dengan warga sekitar kalau masyarakat dan para pemuda setempat melaksanakan gotong royong untuk membuat akses jalan menuju gunung Watulawang," jelasnya.

Erwin mengaku, cukup miris melihat kondisi Watulawang. Ini dikarenakan kondisinya kurang terawat. "Kondisinya sedikit kurang terawat karena terdapat gubuk yang sudah rubuh dan itu belum diperbaiki karena terkendala biaya dan juga terdapat sedikit sampah," terangnya.

Menurutnya, Watulang bisa menjadi tempat wisata pilihan karena menyediakan pemadangan yang menarik. Selain itu bianyanya juga sangat murah. "Cuma bayar Rp 2.000 saja. Itupun untuk parkir kendaraan," terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cilegon Buchori mengatakan, pihaknya juga mempunyai niatan untuk mengembangkan Watulawang. Namun demikian pihaknya terkndala dengan lahan. Ini dikarenakan lahan tempat wisata itu merupakan milik warga sekitar. "Jadi kalau ingin mengembangkan secara total harus dibeli lahannya. Namun kan terkendala biaya. Kalau lahan ini tidak dibeli nanti lahannya ditanami kacang atau tanaman lainnya," ujarnya.

Dikatakan Buchori, sebelumnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten pernah melakukan penataan dengan membuat saung di Watulawang. Namun ternyata saung tersebut kurang mendapatkan restu dari warga sekitar. "Bahkan akhirnya ada sempat saungnya di bakar. Banyak kendala dalam pengembangan wisata ini. Jadi investor sulit masuk ke wisata Watulawang ini," katanya. (USMAN TEMPOSO)

Read More

Rabu, 03 Februari 2016

Trip: Hawanya Dingin, Suasana Mirip Seperti Puncak

LEBAK - Belum banyak yang tahu, bila di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, terdapat perkebunan teh yang cukup luas.Sejak satu bulan belakangan ini, Bupati Iti Octavia Jayabaya, serta sejumlah pejabat eselon II di lingkungan Pemkab Lebak, kerap membicarakan perkebunan teh di Kampung Cikuya, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cibeber.





Kepada para wartawan, Bupati Iti Octavia kerap bercerita tentang keindahan suasana pemandangan perkebunan teh tersebut. Karena didorong rasa penasaran cerita dari Bupati, maka pekan lalu, Banten Raya menuju Cibeber untuk melihat langsung perkebunan teh tersebut. 

Setibanya di lokasi, tepatnya di Kampung Cikuya, Desa Hegarmanah, ternyata benar apa yang diceritakan Bupati Iti Octavia Jayabaya. Di Cikuya ada 120 hektar perkebunan teh yang ditanam oleh pengusaha dari luar Lebak. 

Dari 120 hektar tersebut, baru 40 hektar yang sudah mulai bisa dipetik. Selain menguntungkan bagi pajak daerah, keberadaan perkebunan teh yang pertama di Lebak ini pun, menguntungkan masyarakat sekitar Desa Hegarmanah. Mengapa demikian? karena tenaga kerja yang diberdayakan, sebagian besar menggunakan masyarakat setempat. 

Yang lebih menakjubkan lagi, suasana perkebunan teh di Kampung Cikuya, nyaris mirip dengan suasana perkebunan teh di Puncak, Cianjur, Jawa Barat. Selain hawanya sangat dingin, udara disekitar lokasi perkebunan teh itupun sangat bersih.

“Dulu, sebelum dilirik investor perkebunan teh, lahan diperbukitan di kampung kami ini, merupakan lahan yang tidak produktif. Namun setelah disulap menjadi perkebunan teh, maka tidak hanya mendukung perekonomian rakyat melalui tenaga kerjanya, tetapi menjadikan Cikuya memiliki daerah wisata perkebunan teh,” kata Sarman, warga Kampung Cikuya.

Mengingat baru 40 hektar yang digunakan untuk penanaman teh, maka secara bertahap, lahan seluas 120 hektar yang masih tersisa tentu akan terus berkembang menjadi lahan perkebunan teh yang baru. Dengan semakin luas jumlah perkebunan tehnya, tentu pemkab berharap akan semakin banyak pula tenaga kerja yang akan terserap. 

Karena suasananya nyaris menyerupai perkebunan teh di Puncak, Cianjur, maka pemkab pun berharap, suatu saat nanti, perkebunan teh di Cibeber, menjadi lokasi wisata, yang mampu membawa daya tarik tersendiri bagi masyarakat Lebak, maupun masyarakat dari luar Banten untuk mengunjunginya. 

“Belum lama inipun, saya bersama Ibu Bupati dan rekan-rekan pejabat pemkab, datang langsung ke perkebunan teh. Harus kami akui, keberadaannya tidak jauh berbeda dengan perkebunan teh di Puncak, Cianjur. Selain itu, pemkab tentu bangga, karena perusahaan perkebunan teh tersebut menggunakan tenaga kerja lokal,” kata Asda II Pemkab Lebak Budi Santoso. (Hudaya Meidana)

Read More

Jumat, 08 Januari 2016

Trip: Curug Manjangan; Indah, Namun Belum Populer

BAROS - Nama Curug Manjangan mungkin masih asing karena belum dikenal luas oleh masyarakat. Padahal keberadaan Curug Manjangan sebetulnya hanya berjarak tiga kilometer dari Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), tepatnya berada di Kampung Curug Manjangan, Desa Taman Sari, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang.



 Dari segi panorama tidak kalah indah dengan curug-curug lain. Karena pengunjung disuguhi panorama terjunan air setinggi enam meter berada di lembah kaki Gunung Karang yang terlihat sangat indah. Di puncak terjunan air terdapat sebuah batu besar secara alami membentuk dua aliran sungai kecil. Keindahan bertambah di saat aliran air melewati batu berundak-undak yang membuat tetesan air menyejukan pandangan mata.

Untuk menuju curug dapat ditempuh dengan menaiki kendaraan umum jurusan Serang-Pandeglang maupun pribadi sekitar 15 menit dari KP3B dan lima menit dari kantor Kecamatan Baros. Setelah datang ke lokasi akan ada warga yang bersedia mengantarkan secara sukarela karena sementara ini tidak tersedia retribusi tiket masuk maupun parkir kendaraan.

Badriah, salah seorang warga Kampung Curug Manjangan mengaku tidak mengetahui sejarah curug. “Asal-usul sejarah nama Curug Manjangan  tidak ada orang yang mengetahui secara pasti. Warga sini hanya bisa menduga-duga kalau waktu zaman dulu banyak manjangan hidup di sekitar curug,” kata Badriah, warga Kampung Curug Manjangan, Desa Taman Sari, Kecamatan Baros, Senin (2/3).

Menurut Badriah, keberadaan Curug Manjangan belum sepupuler dengan curug lain yang sudah dikenal masyarakat secara luas. Sementara ini baru populer di kalangan warga sekitar.“Seiring berjalan waktu kini perlahan mulai dikenal warga dari luar kampung berkat warga sini yang bercerita dari mulut ke mulut. Alhamdulilah setiap pekan ada saja pengunjung yang sengaja datang main untuk mandi maupun sekadar berselfe ria,” katanya.

Dikatakan Badriah, kedatangan pengunjung ini belum lah signifikan jumlahnya. Karena baru sekitar puluhan orang saja. “Tetapi sekalipun sedikit membawa keberkahan tersendiri bagi warga sini. Khususnya bagi warga yang buka warung menjadi lebih ramai dari hari biasa,” katanya.

Sukemi, warga lain menambahkan pengunjung yang bermain ke curug didominasi remaja. “Kebanyakan anak-anak sekolah. Mereka biasanya menjelang akhir pekan setelah pulang sekolah menyempatkan diri mengunjungi curug,” katanya.

Curug Manjangan ramai dikunjungi ketika cuaca sedang cerah. Kalau sedang musim hujan seperti sekarang ini akan terlihat sepi.“Sebab akses jalan masih alami berupa tanah. Untuk sampai ke Curug harus menuruni jalanan terjal sehingga kalau hujan licin, kalau tidak berhati-hati bisa terjatuh akibat terpeleset,” katanya.(PURNAMA)

Read More

Sabtu, 28 November 2015

Trip: Pantai Ketapang, Surga Pantai Tersembunyi di Tepi Selat Sunda

Anyer - Kawasan wisata pantai di Anyer dan Cinangka, Kabupaten Serang, kerap menjadi target destinasi wisatawan saat musim liburan, termasuk pada libur lebaran.Salah satu objek wisata di kawasan Anyer yang menarik dikunjungi adalah Pantai Ketapang.




Sang surya mulai menyapa senja. Langit yang semula cerah perlahan berubah menjadi jingga dan merah saga. Di tepi Pantai Ketapang, ratusan wisatawan menyaksikan potongan senja ini dengan berbagai aktivitas. Ada yang tetap berenang, menikmati kudapan, atau mengabadikannya dengan kamera ponsel.

Letak Pantai Ketapang cukup tersembunyi, karena tidak berada di tepi jalan raya dan tak ada penunjuk jalan menuju kawasan ini. Surga pantai ini terletak di Kampung Sukamanah, Desa Anyar, Kecamatan Anyer. Wisatawan dari arah Cilegon bisa mengunjunginya dengan mengarahkan kendaraan ke pertigaan Kampung Kepuh, sekira 300 meter dari gapura kawasan Anyer. Dari pertigaan ini, Pantai Ketapang bisa ditepuh hanya sekitar lima menit dengan kendaraan. Kawasan Pantai Ketapang pernah diproyeksikan oleh Pemkab Serang sebagai lokasi pembangunan Masjid Terapung Banten (MTB) namun dibatalkan. Panitia pembangunan MTB kini memilih lokasi lain.

Surga pantai ini bisa dinikmati tanpa dipungut biaya sama sekali. Kendaraan wisatawan bisa bebas parkir di tapi pantai ini. “Selain pemandangannya lumayan bagus, di pantai ini gratis. Tidak seperti pantai lain yang sudah diportal sehingga harus bayar,” ungkap Desi, salah seorang pengunjung, Kamis (31/7/2014) lalu.

Selain bisa menikmati pemandangan saat matahari tenggelam dari tepi Selat Sunda, wisatawan juga bisa berenang atau sekadar bermain air laut di pantai ini. Namun perlu hati-hati saat berenang, karena sebagai besar pantai ini dipenuhi karang. Pada saat air surut, pengunjung juga bisa menyaksikan belasan pemancing gurita dengan bambu panjang atau ibu-ibu pencari rumput laut di pantai ini. Jika ingin menikmati ikan segar, pengunjung bisa membelinya kepada nelayan yang baru pulang melaut, mencarinya di Pelabuhan Ikan Anyer yang jaraknya hanya seratusan meter. Bila tak mendapatkan ikan segar dari nelayan, pengunjung bisa membelinya dari pasar ikan di pertigaan Kampung Kepuh.

Wisatawan yang memiliki banyak uang dan ingin menikmati keindahan pantai lainnya, dari Pantai Ketapang bisa menyewa perahu nelayan untuk menuju Pulau Sanghyang. Biaya sewa tergantung perahu dan waktu sewa dengan harga berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Di Pulau Sanghyang pengunjung bisa melakukan aktivitas pantai seperti memancing, menyelam, atau sekedar berenang di pulau yang belum banyak penghuninya tersebut. (*)

Read More

Kamis, 26 November 2015

Trip: Pesona Gunung Honje

PANDEGLANG - Gunung Honje memang tidak setinggi gunung-gunung lain yang berada di Pulau Jawa. Ketinggian Gunung Honje hanya sekitar 700 meter dpl,  tapi di gunung ini kita akan disuguhi pesona lain karena menawarkan panorama vegetasi hutan pegunungan rendah (sub montana) dan satwa-satwa liar saat kita melakukan treking ke gunung tersebut. Di lokasi ini kita juga bisa bermain kano menyusuri Sungai Cigenter di kawasan Pulau Handeuleum, Kampung Paniis Desa Tamanjaya Kecamatan Sumur. Lokasi ini  juga menawarkan atraksi wisata lain yang tak kalah menarik dan menantang yaknui treking ke Gunung Honje.
Read More

About Me

Popular Posts

Designed By Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates