CILEGON - Kalau di Lombok ada Gunung Rinjani, Malang
ada Gunung Mahameru dan Bromo, bagaimana Cilegon? Ternyata Cilegon juga
tak kalah soal wisata alam. Hal itu dibuktikan dengan keindahan
Watulawang yang berada di Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol.
Bagi yang suka travel atau hiking mungkin sudah tidak asing lagi dengan
wisata alam Gunung Watulawang. Namun bagi yang mungkin belum pernah
mencobanya, Gunung Watulawang mungkin bisa menjadi referensi wisata
akhir pekan pilihan bersama rekan atau keluarga. Namun barang tentu
harus menyiapkan stamina yang cukup untuk mendakinya.
Namun jangan khawatir, saat ini warga sekitar sudah menyiapkan jalan setapak yang muat untuk kendaraan roda dua jika anda tidak ingin mengeluarkan tenaga banyak. Jadi pagi para traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua hingga sampai sekitar lokasi. Cukup bayar Rp 2.000 saja untuk biaya parkir. Jadi kendaraan yang kita bawa dijamin aman.
Gunung Watulawang, begitu masyarakat sekitar menyebutnya. Menurut cerita masyarakat sekitar, konon Watulawang merupakan sebuah batu yang membelah dua wilayah dan Batu tersebut membelah dua gunung, yakni Gunung Batur dan Gunung Gede yang merupakan perbatasan antara Merak dan Bojonegara, atau tepatnya terletak di Gunung Pengobelan, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak.
Konon nama Batu Lawang diambil dari batu yang sangat besar dan membelah dua gunung tersebut yang kemudian dijadikan pintu atau dalam bahasa sekitar disebut lawang. Terlepas dari mitosnya, Watulawang memang menyimpan wisata alam nan eksotis. Dari atas gunung kita bisa melihat pemandangan Kota Serang, Cilegon, Merak dan sekitarnya.
Erwin Suganda, warga Kecamatan Grogol mengaku, dirinya sering berkunjung ke Gunung Watulawang. Menurutnya, Gunung Watulawang sangat bagus dan memiliki wisata alam yang menarik. Hal itu juga didukung dengan pemandangan alam yang memanjakan mata. "Menurut saya sih bagus banget. Dari atas gunung itu kita bisa liat pemandangan Kota Cilegon, lebih bagus lagi kesananya waktu sore hari karena bisa lihat langsung terbenamnya matahari," katanya kepada Banten Raya, Kamis (27/1).
Namun demikian, ternyata wisata gunung tersebut kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Warga juga melakukan gotong royong untuk membuat akses jalan. "Kalau soal perhatian dari pemerintah saya kurang tahu, tapi saya sempat ngobrol dengan warga sekitar kalau masyarakat dan para pemuda setempat melaksanakan gotong royong untuk membuat akses jalan menuju gunung Watulawang," jelasnya.
Erwin mengaku, cukup miris melihat kondisi Watulawang. Ini dikarenakan kondisinya kurang terawat. "Kondisinya sedikit kurang terawat karena terdapat gubuk yang sudah rubuh dan itu belum diperbaiki karena terkendala biaya dan juga terdapat sedikit sampah," terangnya.
Menurutnya, Watulang bisa menjadi tempat wisata pilihan karena menyediakan pemadangan yang menarik. Selain itu bianyanya juga sangat murah. "Cuma bayar Rp 2.000 saja. Itupun untuk parkir kendaraan," terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cilegon Buchori mengatakan, pihaknya juga mempunyai niatan untuk mengembangkan Watulawang. Namun demikian pihaknya terkndala dengan lahan. Ini dikarenakan lahan tempat wisata itu merupakan milik warga sekitar. "Jadi kalau ingin mengembangkan secara total harus dibeli lahannya. Namun kan terkendala biaya. Kalau lahan ini tidak dibeli nanti lahannya ditanami kacang atau tanaman lainnya," ujarnya.
Dikatakan Buchori, sebelumnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten pernah melakukan penataan dengan membuat saung di Watulawang. Namun ternyata saung tersebut kurang mendapatkan restu dari warga sekitar. "Bahkan akhirnya ada sempat saungnya di bakar. Banyak kendala dalam pengembangan wisata ini. Jadi investor sulit masuk ke wisata Watulawang ini," katanya. (USMAN TEMPOSO)
Namun jangan khawatir, saat ini warga sekitar sudah menyiapkan jalan setapak yang muat untuk kendaraan roda dua jika anda tidak ingin mengeluarkan tenaga banyak. Jadi pagi para traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua hingga sampai sekitar lokasi. Cukup bayar Rp 2.000 saja untuk biaya parkir. Jadi kendaraan yang kita bawa dijamin aman.
Gunung Watulawang, begitu masyarakat sekitar menyebutnya. Menurut cerita masyarakat sekitar, konon Watulawang merupakan sebuah batu yang membelah dua wilayah dan Batu tersebut membelah dua gunung, yakni Gunung Batur dan Gunung Gede yang merupakan perbatasan antara Merak dan Bojonegara, atau tepatnya terletak di Gunung Pengobelan, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak.
Konon nama Batu Lawang diambil dari batu yang sangat besar dan membelah dua gunung tersebut yang kemudian dijadikan pintu atau dalam bahasa sekitar disebut lawang. Terlepas dari mitosnya, Watulawang memang menyimpan wisata alam nan eksotis. Dari atas gunung kita bisa melihat pemandangan Kota Serang, Cilegon, Merak dan sekitarnya.
Erwin Suganda, warga Kecamatan Grogol mengaku, dirinya sering berkunjung ke Gunung Watulawang. Menurutnya, Gunung Watulawang sangat bagus dan memiliki wisata alam yang menarik. Hal itu juga didukung dengan pemandangan alam yang memanjakan mata. "Menurut saya sih bagus banget. Dari atas gunung itu kita bisa liat pemandangan Kota Cilegon, lebih bagus lagi kesananya waktu sore hari karena bisa lihat langsung terbenamnya matahari," katanya kepada Banten Raya, Kamis (27/1).
Namun demikian, ternyata wisata gunung tersebut kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Warga juga melakukan gotong royong untuk membuat akses jalan. "Kalau soal perhatian dari pemerintah saya kurang tahu, tapi saya sempat ngobrol dengan warga sekitar kalau masyarakat dan para pemuda setempat melaksanakan gotong royong untuk membuat akses jalan menuju gunung Watulawang," jelasnya.
Erwin mengaku, cukup miris melihat kondisi Watulawang. Ini dikarenakan kondisinya kurang terawat. "Kondisinya sedikit kurang terawat karena terdapat gubuk yang sudah rubuh dan itu belum diperbaiki karena terkendala biaya dan juga terdapat sedikit sampah," terangnya.
Menurutnya, Watulang bisa menjadi tempat wisata pilihan karena menyediakan pemadangan yang menarik. Selain itu bianyanya juga sangat murah. "Cuma bayar Rp 2.000 saja. Itupun untuk parkir kendaraan," terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cilegon Buchori mengatakan, pihaknya juga mempunyai niatan untuk mengembangkan Watulawang. Namun demikian pihaknya terkndala dengan lahan. Ini dikarenakan lahan tempat wisata itu merupakan milik warga sekitar. "Jadi kalau ingin mengembangkan secara total harus dibeli lahannya. Namun kan terkendala biaya. Kalau lahan ini tidak dibeli nanti lahannya ditanami kacang atau tanaman lainnya," ujarnya.
Dikatakan Buchori, sebelumnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten pernah melakukan penataan dengan membuat saung di Watulawang. Namun ternyata saung tersebut kurang mendapatkan restu dari warga sekitar. "Bahkan akhirnya ada sempat saungnya di bakar. Banyak kendala dalam pengembangan wisata ini. Jadi investor sulit masuk ke wisata Watulawang ini," katanya. (USMAN TEMPOSO)
Sumber: http://www.bantenraya.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar