Minggu, 14 Februari 2016

BALIKKAN TANGANMU, JIKA TENGADAH MEMBUATMU TERLUKA

Hujan begitu deras diiringi petir yang menyambar, suara yang memekakkan telinga seakan tak memberikan ruang bagi siapapun meninggikan keberaniannya. Seorang anak muda berbadan kurus termangu di depan sebuah toko obat. Kakinya nampak bergetar menahan kedinginan, mukanya yang sayu nampak gelisah menahan sesuatu. Dia kembali mengingat anaknya yang paling kecil yang sedang terbaring sakit tak berdaya, tadi pagi dokter mengatakan bahwa anaknya terkena typhus.


Kertas resep yang diberikan dokter tak cukup kuat membuat harapan melihat anaknya sembuh menguat. Justru kertas ini yang membuatnya tersiksa lebih dari tiga jam didepan toko obat. Uang-uang receh di genggamannya nampak kumal. Tiga jam yang lalu dia memutuskan untuk mengemis demi tujuh puluh lima ribu uang penebus resep anaknya.
Namun hatinya tetap saja meronta, karena mengemis menurutnya adalah selemah-lemahnya usaha.
“Haruskah aku menyembuhkan anakku dengan mengemis”, gumannya perlahan
Dia mulai membuka pintu toko obat namun ditutupnya kembali. Tarikan nafasnya menjadi berat. Disandarkan tubuh dinginnya ke dinding.
“Harusnya aku tidak mengemis !”, sebuah nada penyesalan keluar kembali dari mulutnya lirih.
Tiba-tiba dilihatnya seorang pria perlente nampak tergopoh-gopoh masuk ke toko obat, setelah meletakkan resep, pria itu duduk sambil mengibas-ibaskan rambutnya yang basah.
Dengan mengumpulkan keberanian anak muda berbadan kurus mendekati sang pria perlente.
“Maaf Pak, saya mau melakukan apa saja yang bapak suruh asal Bapak menebuskan resep obat anak saya”, suara anak muda ini parau namun agak keras. Belum sempat sang pria menjawab anak muda ini kembali berbicara dengan penuh tekanan emosional.
“Tetapi saya tidak mau mengemis Pak, saya harus melakukan sesuatu. Tiga jam saya mengemis dan uang resep anak saya sudah terkumpul, tetapi hati saya terluka karena saya tidak melakukan sesuatu, saya hanya memindahkan duka saya kepada para dermawan. Saya tidak mau Pak, sekali lagi saya tidak mau”, anak muda ini bertutur sampai mengeluarkan air mata, sebuah pertanda pergolakan batin sedang menyelimutinya.
Sang Pria meski terkejut namun mencoba tersenyum, tanpa bicara diambilnya kertas resep ditangan anak muda berbadan kurus, menuju kasir. Setelah lima menit sang pria kembali membawa dua buah tas plastik berisi obat. Satu plastik diulurkan ke anak muda di depannya.
Anak muda itu menolak dan melanjutkan perkataannya, “saya tidak mau mengemis Pak, saya harus melakukan sesuatu untuk Bapak”.
Sang Pria memandangi anak muda kurus didepannya.
“Aku memintamu untuk mengantarkan obat ini kepada anakmu, aku memintamu untuk membalikkan tanganmu karena aku melihat engkau begitu terluka saat tanganmu tengadah. Saat engkau memberikan obat ini tanganmu terbalik. Namun wahai sahabatku, tanganmu yang sedang tengadah sesungguhnya membuat orang lain memiliki kesempatan untuk membalikkan tangannya. Keikhlasan memberi hanya tercipta atas ketulusan menerima. Banyak manusia menjadi sombong atas pemberiannya bahkan kadang dia lupa meminta kepada Tuhannya. Tuhan mengajari kita meminta karena kekuatan kita tak mampu menyelesaikan sendiri semuanya. Mentalitas mandiri bukanlah kesombongan menyelesaikan sendiri semuanya, tetapi lebih kepada berbagi secara seimbang antara keikhlasan memberi dan ketulusan menerima”
Pria itu meletakkan plastik obat di genggaman anak muda di depannya, dan pergi meninggalkan anak muda berbadan kurus yang nampak termangu mencerna pembicaraannya.
Pria itu masuk ke dalam mobil, dari balik kaca mobilnya dia melihat anak muda berbadan kurus berlari menembus pekatnya hujan. Air matanya meleleh, bukan sekedar kekagumannya melihat perjuangan seorang ayah demi anaknya, tetapi sebuah penyesalan terhadap keangkuhannya selama ini dalam memberi.
Dia bergumam perlahan sambil menjalankan mobilnya, “Jangan-jangan kesibukanku membalikkan tanganku adalah sebuah kesombongan yang menghilangkan semua waktuku untuk menengadahkan tanganku kepadaMU”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Popular Posts

Designed By Seo Blogger Templates Published.. Blogger Templates
s
u
l
P
n
o
c
I
n
e
t
n
a
g
n
a
j
a
M